Panduan Singkat Budidaya Tanaman Ubi Jalar

Panduan Singkat Budidaya Tanaman Ubi Jalar – Masyarakat di Indonesia terutama pada daerah – daerah pedesaan rata – rata terbiasa mengonsumsi nasi yang banyak mengandung sumber karbohidrat dimana kondisi seperti ini sama dengan yang terkandung di dalam Ubi Jalar. Tanaman yang memiliki nama lain adalah Ketela Rambat atau ‘Ipomoea Batatas L.’ merupakan salah satu makanan yang aslinya berasal dari Amerika Selatan yang dikenal sebagai salah satu negara yang beriklim tropis.

Tahapan Penyiapan Bibit

Menyiapkan bibit Ubi Jalar dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu sebagai berikut :

  1. Cara generatif saat ini agak jarang dilakukan untuk budidaya Ubi Jalar dalam skala besar tetapi dianjurkan untuk memperbanyak bibit unggul dalam skala terbatas memakai cara ini. Pilih umbi yang berkualitas sehat. Kumpulkan dan biarkan pada tempat – tempat yang lembab dan teduh sampai tunas baru keluar. Potong tunas lalu siap ditanam.
  2. Cara vegetatif melalui stek. Pilihlah indukan yang berasal dari tanaman unggul berumur 2 bulan dengan memiliki ruas pendek. Potong – potong batang rata – rata berukuran 15 s/d 25 Cm. Pada masing – masing potongan harus terdapat 2 ruas batang. Papas daunnya lalu ikat batang yang sudah distek dan simpan pada tempat yang teduh sekitar 1 minggu. Metode ini dianjurkan untuk penanaman sebanyak 3 s/d 5 kali.

Tahapan Pengolahan Tanah

Adapun tanah / lahan yang cocok untuk ditanami tanaman Ubi Jalar adalah tanah lempung berpasir, dalam kondisi gembur serta banyak mengandung unsur hara serta mempunyai sistem ‘drainase’ yang bagus. Jika kondisi tanah retak dan agak kering maka akan menyebabkan ‘imunitas’ tanaman akan menurun sehingga mudah terserang hama penyakit.

Jika budidaya dilakukan pada kondisi tanah yang basah dan agak becek maka akan berpengaruh buruk terhadap pertumbuhan dan perkembangan umbi menjadi berukuran kerdil, mudah membusuk dan banyak tumbuh benjol – benjol serta mengandung kadar serat yang cukup tinggi.

Maka dari itu tanah yang pas dimanfaatkan sebagai lahan adalah tanah dengan ph kisaran 5,5 s/d 7,5 seperti tanah tegalan dan sawah. Disarankan untuk melakukan penanaman ketika musim sedang berada pada akhir musim hujan untuk benih yang akan ditanam pada lahan sawah. Selanjutnya pengolahan tanah tak perlu lagi memerlukan pupuk yang benyak.

Lakukan pembajakan atau pencangkulan terhadap lahan untuk tujuan menggemburkan. Sediakan bedengan – bedengan dengan ukuran ketinggian mencapai antara 30 s/d 40 Cm dengan lebar 60 s/d 100 Cm dan jarak antar bedengan sekitar 40 s/d 60 Cm.

Panjang bedengan ditentukan oleh bentuk lahan yang akan anda pilih, disarankan untuk menggunakan pupuk kandang / kompos yang dicampurkan pada tanah bedengan dengan memakai takaran sekitar 20 ton / hektar. Pupuk kandang pilihan adalah pupuk  kandang dari bahan campuran kotoran ayam dan kambing / sapi yang sudah matang.

Tahapan Penanaman Dan Perawatan

Penanaman pada umumnya dilakukan dengan cara membenamkan 2/3 bagian dari keseluruhan stek batang ke dalam tanah. Lalu dibuatkan bedengan – bedengan dimana dalam 1 bedengan dibuatkan 2 baris tanaman dengan memiliki jarak antar tanaman di dalam 1 baris adalah rata – rata sekitar 30 Cm dan jarak antar baris adalah sekitar 40 Cm.

1 hektar lahan membutuhkan sekitar 36 ribu batang dimana pada waktu awal penanaman harus melakukan penyiraman yang rutin di waktu pagi dan sore hari untuk tujuan menjaga kelembaban tanah. Hentikan penyiraman ketika tanaman sudah menunjukkan gejala mulai tumbuh tunas baru yaitu berupa keluarnya daun – daun baru.

Apabila lahan tanam terletak pada daerah – daerah dengan kondisi intensitas hujan hanya sekali dalam kurun waktu 2 minggu maka tak dibutuhkan lagi untuk melakukan penyiraman secara terus – menerus karena asupan air sudah dalam jumlah mencukupi. Lakukan pemeriksaan ruitn secara keseluruhan setelah masa 2 s/d 3 minggu terjadinya penanaman.

Apabila tanaman ada yang mengalami gagal tumbuh maka segeralah melakukan penyulaman dengan tanaman yang baru. Lakukan pembongkaran tanah di sekitar masing – masing tanaman yang dilakukan ketika tanaman berumur 4 minggu dengan tujuan agar akar tak menjalar kemana – mana.

Lakukan penyiangan terhadap gulma ketika tanaman berusia 6 s/d 8 minggu,  selanjutnya tutup kembali dengan sisa tanah dan rapikan akar – akar tanaman yang keluar dari jalur penanaman sebatang pohon sehingga nantinya menghasilkan umbi yang tak terlalu berukuran besar namun jarang tetapi yang sedang – sedang saja tetapi yang banyak. Waspadai hama penyakit pada tanaman yang sewaktu – waktu bisa menyerang dan mengancam tanaman Ubi Jalar sehingga menghasilkan tanaman yang pertumbuhannya kurang maksimal.

Tahapan Pemanenan

Setelah mengetahui tentang bagaimana cara membudidayakan tanaman Ubi Jalar, selanjutnya melakukan tahapan pemanenan disaat Ubi Jalar sudah memasuki umur rata – rata sekitar 3,5 s/d 4 bulan. Perhatikan cuaca saat memanen hindari ketika musim sedang memasuki musim hujan deras karena akan menyebabkan umbi mudah membusuk.

Disarankan untuk melakukan pemanenan yaitu maksimal 7 hari setelah hujan turun. Panen dikatakan berhasil apabila 1 bibit tanaman mampu menghasilkan minimal 1 Kg Ubi Jalar dengan total pendapatan dapat mencapai sekitar lebih dari 25 ton per hektar bahkan bisa mencapai 30 s/d 40 ton / hektar untuk jenis varietas tertantu. Sortir dengan hati – hati lalu simpan pada karung kering di tempat yang kering.

Demikian kami menjelaskan tentang panduan singkat budidaya tanaman Ubi Jalar, semoga dapat memberikan wawasan dan bermanfaat.

Updated: Januari 1, 2019 — 2:59 pm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Informasi Paling Terkini © 2018 Frontier Theme